Analisa Pentas Teater
KOTA
DALAM TEATER
Foto
oleh : Ahmad Amri Aliyyi
4
- 6 Desember 2022, Saya mengunjungi Gedung Kesenian Societeit de Harmonie untuk
melihat pertunjukan teater dari Kala Teater sekaligus mendokumentasikan
kegiatan teater tersebut. Kota Dalam Teater ini merupakan proyek pembacaan
isu-isu kota melalui riset terhadap warga kota yang dikerjakan Kala Teater
sejak tahun 2015 hingga 2025.
Pada
pertunjukan ini Kala Teater mempersembahkan 3 pertunjukan teater yakni,
Perangkap Kata-Kata, Di Seberang Kekacauan, dan Bunyi Warga. Ketiga pertunjukan
tersebut di sutradarai oleh Shinta Febriany dan diperankan oleh Dwi Lestari
Johan, Nurul Inayah, Rifka Rifai Hasan, Sabri Sahafuddin dan Wawan Aprilianto.
Saya
melihat dengan mata kepala saya sendiri, pertunjukan teater tersebut memiliki
banyak nilai seni dan pesan-pesan keresahan beberapa warga. Pertunjukan ini
membukakan saya pandangan baru terkait masyarakat, bahwasanya masih banyak
sekali masyarakat kecil khususnya di kota Makassar ini yang butuh fasilitas
yang lebih layak. Tidak ada bunyi musik yang terdengar pada pertunjukan ini
tetapi pesannya dapat terdengar dengan jelas melalui nada yang dikeluarkan dari
mulut aktor-aktor yang sedang memainkan perannya.
Foto oleh : Ahmad Amri Aliyyi
Perangkap
Kata-Kata, Pertunjukan pertama yang menampilkan 5 aktor yang masing-masing
bermonolog dengan menggunakan oven sebagai penutup kepala dan memakai kostum
serba merah, tentunya bukan tanpa alasan mereka berpenampilan seperti itu. Oven
yang jika dipakai di kepala akan terasa sangat panas dan juga memunculkan rasa gerah,
seperti itulah gambaran kota Makassar saat ini, yang panas dan dipenuhi dengan
polusi kendaraan, Kostum full merah, warna merah yang dilambangkan sebagai
kemarahan, dan kekecewaan, kebijakan yang hanya berpihak ke satu sisi,
program-program yang tidak masuk akal dan lain sebagainya.
Para
pemain yang saling bergantian mengucapkan monolog dan memerankan berbagai
karakter masyarakat kota Makassar mulai dari karakter anak-anak hingga orang
dewasa, mengungkapkan berbagai macam keresahan masyarakat, dan berulang kali persoalan
yang sama terucap di mulut pemain menandakan bahwa masalah itu tidak hanya
dirasakan oleh satu pihak.
Apresiasi yang tinggi dapat diberikan kepada para pemain karena berhasil memainkan berbagai karakter dengan gerakan gestur yang estetik dan menyentuh hati para penonton.
Di
Seberang Kekacauan, Pertunjukan kedua yang ditandai dengan munculnya seorang Aktor
lelaki berpakaian rapi setelan jas hitam dengan membawa mic di tangan kiri dan
pot yang berisikan tanaman di tangan kanan, lantunan lagu Minasa ri Boritta (ciptaan
Abdullah Sijaya) terdengar dari mulut sang aktor kemudian berjalan perlahan
demi perlahan, kemudian 3 aktor yang lain pun muncul bersamaan, 2 aktor membawa
pot yang sama persis dibawakan oleh aktor pertama, dan 1 aktor membawa dupa dengan
pakaian sarung dan bando khas Makassar.
Foto oleh : Ahmad Amri Aliyyi
Lantunan
lagu yang dinyanyikan tanpa musik ini menjadi latar selama pertunjukan, aktor
yang menyanyikan lagu ini tampak sangat menghayati dengan bunga yang di pegangnya,
2 aktor yang sama-sama membawa pot saling bergantian mempresentasikan sebuah
power point yang di tancapkan ke pintu Gedung Kesenian, data-data yang
ditampilkan merupakan hasil riset Kala Teater, terdapat beberapa data-data yang
ditampilkan seperti kekerasan seksual yang dialami perempuan, peredaran
narkoba, dan pembegalan.
Bunyi
Warga, Pertunjukan ketiga dimulai dan menampilkan ada 4 aktor yang bermain, 3
di antaranya sedang bermain bulu tangkis dan yang satunya sedang duduk di kursi
dan menghadap ke penonton. Aktor yang duduk membawa tas yang berisi botol-botol
kecil ASI dan memompanya di atas panggung, dan 3 aktor dibelakangnya yang
sedang sibuk bermain bulu tangkis kemudian visual audio terdengar, dalam visual
audio tersebut terdengar suara-suara warga yang menyampaikan beberapa harapan-harapan
terhadap kota Makassar, seperti tata kota yang rapih, bebas banjir, aman dari
kejahatan di jalan, dan kesejahteraan, dan juga apa yang akan mereka sampaikan
jika bertemu langsung dengan walikota kota Makassar. Harapan itu disampaikan
tanpa tahu apakah walikota bisa menyediakan telinganya mendengarkan itu semua.
Ada juga warga yang pesimis di dalam rekaman suara itu, ia percaya bahwa
sekalipun harapannya didengar tidak akan mengubah apa-apa.
Butta
Kalassukangku lagu ciptaan Anci Laricci dan Sila Leo dinyanyikan oleh aktor
yang duduk di depan, lakon ibu yang penuh kasih sayang dan memberi hidup kepada
anak untuk membesarkannya, adegan itu seakan-akan memberi tahu belas asih ibu
tidak pernah usai bahwa harapan bisa ditumbuhkan.
Selama
tiga malam Kala Teater menginterupsi keadaan Makassar hari ini. Apa-apa yang
terjadi dengan Makassar sekarang ini tidak terjadi begitu saja, tetapi terjadi
secara terstruktur. Kala Teater merangkum aspirasi warga akar rumput untuk
dibincangkan kembali, tetapi dengan bentuk yang pertunjukan. Masalah-masalah
yang terangkum seringkali melintas dan menghampiri warga kota, namun ruang
teater mengadvokasi masalah tersebut agar kekuatan warga dapat terhubung.
Selubung-selubung
yang diselipkan seperti oven, lagu, bulu tangkis, dan ibu merupakan daya ungkap
terhadap sejumlah masalah. Simbol-simbol metaforik yang demikian merangsang
kepekaan dalam melihat sesuatu. Katakanlah oven itu sebagai kotak suara
pungutan suara yang setiap dibuka berisi keresahan warga kota. Menitipkan
harapan indah melalui dua lagu Minasa Ri Boritta dan Butta
Kalassukangku kembali menciptakan optimis di benak warga. Suara-suara warga
yang ditepis dengan raket. Kemunculan ibu di tengah sekelumit masalah membuat
kita percaya jika Makassar masihlah tempat yang aman untuk memangku hidup.



Komentar
Posting Komentar